Sabtu, 12 Mei 2012

Ringkasan Isi BAB "Berpikir Induktif dan Deduktif"

Bab Induksi

1.      Pendahuluan

Dalam bab ini telah dikemukakan dasar-dasar bagi jalan pikiran atau proses penalaran sebagai landasan bagi argumentasi.dasar-dasar itu meliputi pengertian inferensi, implikasi, evidensi, dan cara menilai fakta dan evidensi utuk dipergunakan dalam sebuah argumentasi.

Proses penalaran atau jalan pikiran manusia pada hakikatnya sangat kompleks dan rumit, dan dapat terdiri dari suatu mata rantaievidensi dan kesimpulan-kesimpulam.karena kekompleksan dan kerumitan itulah maka tidak mengherankan bila ahli-ahli logika dan psikolog tidak selalu sepakat mengenai beberapa unsur dari proses penalaran itu.

2.      Induksi

Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan(Inferensi). Proses penalaran juga disebut sebagai corak berpikir yang ilmiah.

Proses penalaran induktif dapat dibedakan atas bermacam-macam variasi yaitu: generalisasi, hipotese dan teori, analogi induktif, kausal dan sebagainya.

3.      Generalisasi

Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena.

a.      Loncatan Induktif

Dalam loncatan induktif suatu fenomena belum mencerminkan seluruh fakta yang ada. Fakta-fakta tersebut yang digunakan dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan. Dengan demikian loncatan induktif dapat diartikan sebagai loncatan dari sebagian evidensi kepada suatu generalisasi yang jauh melampauikemungkinan yang diberikan oleh ebidensi itu.

b.      Tanpa Loncatan Induktif

Sebuah generalisasi tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Perbedaan generalisasi dengan loncatan induktif dengan tanpa loncatan induktif terletak pada persoalan jumlah fenomena yang diperlukan.

Generalisasi merupakan proses yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Generalisasi pada kebanyakan orang terjadi karena pengalama, maka jarang seorang awam memikirkan adanya proses jalan pikiran yang bersifat induktif yang tercakup didalamnya. Generalisasi bagi orang awam adalah suatu proses berfikir yang mendahului penyelidikan atas fenomen-fenomena yang khusus dala jumlah yang cukup banyak untuk menuju pada suatu kesimpulan umum mengenai semua hal yang terlibat. Sebaliknya bagi seorang peneliti generalissasi harus didahului bukan mendahului penyelidikan atas sejumlah fenomena. Ia harus mengadakan observasi, penyelidikan dengan penuh kesadaran dan bersikap objektif untuk sampai kepada sebuag generalisasi.

Proses untuk merumuskan sebuah generalisasi dapat digambaran sebagai berikut:

  


Generalisasi

Suatu Corak Penalaran Induktif


Pengujian atau evaluasi generalisasi terdiri dari:

1)      Harus diketahui apakah sudah cukup banyak jumlah peristiwa yang diselidiki sebagai dasar generalisasi (ciri kuantitatif).

2)      Apakah peristiwa merupakan contoh yang baik (ciri kualitatif).

3)      Memperhitungkan kecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi.

4)      Perumusan generalisasi harus absah.

4.      Hipotese dan Teori

Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu dalam penuntuk dalam penelitian fakta lebih lanjut. Sebaliknya teori merupakan hipotese yang relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese. Teori adalah azas yang umum dan abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada. Hipotese merupakan suatu dugaan yang bersifat sementara mengenai sebab-sebab atau relasi fenomena-fenomena, sedangkan teori merupakan hipotese yang telah diuji dan dapat diterapkan pada fenomena yang relevan atau sejenis.

Untuk merumuskan hipotese yang baik perhatikan ketentuan berikut:

1)      Memperhitungkan semua evidensi yang ada

2)      Bila tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih baik memilih hipotesa yang sederhanan daripada yang rumit.

3)      Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia

4)      Hipotese buka hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya,tetapi harus menjelaskan fakta-faktasejenis yang belum diselidiki.

5.      Analogi

Analogi induktif adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain.

Analogi sebagai suatu proses penalaran yang menurunkansuatu kesimpulan berdasarkan kesamaan aktual antara dua hal dapat diperinci lagi untuk tujuan berikut:

1)      Untuk meramalkan kesamaan

2)      untuk menyingkapkan kekeliruan

3)      untuk menyusun sebuah klarifikasi

6.      Hubungan Kasual

pada umumnya hubungan kasual dapat berlangsung dalam tiga pola berikut: sebak ke akibat, akibat ke sebab, akibat ke akibat.

a)      Sebab ke Akibat

Hubungan sebab ke akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju kepada suatu kesimpulan sebagai efek atau akibat yang terdekat.

b)     Akibat ke Sebab

Hubungan akibat ke sebab merupakan suatu proses berfikir yang induktif juga dengan berolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui, kemudian menuju sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat.

c)      Akibat ke Akibat

Proses penalaran yang berproses dari suatu akibat menuju suatu akibat yang lain, tanpa menyebut atau mencari sebab umum yang menimbulkan kedua akibat.

7.      Induksi Dalam Metode Eksposisi

Pada hakikatnya semua metode merupakan proses penalaran yang dapat dimasukan dalam salah satu corak penalaran utama

Metode identifikasi merupakan perumusan katagorial mengenai faktayang diketahui mengenai suatu obyek garapan.

Metode perbandingan bisa mencakup penalaran yang induktif maupun deduktif.

Metode klarifikasi mencakup kedua-duanya. Bila klarifikasi bertolak dari pengelompokan kedalam suatu kelasberdasarkan ciri yang sama, maka ia merupakan induksi.

Dengan demikian metode yang telah diuraikan dalam eksposisi sekaligus jugadapat dimanfaatkan dalam argumentasi. 


Bab Deduksi

1.      Pengertian Deduksi

Deduksi berasal dari kata latin deducere (de yang berarti ‘dari’, dan decere yang berarti ‘menghantar’,’memimpin’). Dengan demikian deduksi yang diturunkan dari kata itu berarti ‘menghantar dari suatu halke suatu hal yang lain’. Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan suatu proses berpikir yang bertolak dari suatu proposisi yang sudah ada, menuju suatu proposisi baru yang menuju suatu kesimpulan.

uraian mengenai proses berpikir yang deduktif akan dilangsungkan melalui beberapa corak berpikir deduktif, yaitu: silogisme, katagorial, silogisme hipotesis, silogisme disjungtif, atau silogisme alternatif, entimen, rantai deduktif, dan teknikpengujian kebenaran atas tiap corak penalaran deduktif.

2.      Silogisme Katagorial

a.      Pengertiam

Yang dimaksud silogisme adalah proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi(pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi yang ketiga.

Secara khusus silogisme kategorial dapat dibatasi suatu argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga proposisi kategorial.

b.      Proposisi Silogisme

Dalam silogisme terdapat tiga term yaitu:

1)      Premis mayor adalah suatu premis yang mengandung term mayor silogisme itu.

2)      Premis minor adalah premis yang mengandung term minor dari silogisme itu.

3)      Kesimpulan adalah proposisi yang mengatakan, bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas, juga akan benar atau berlaku pada anggota tertentu.

c.       Kesahihan dan Kebenaran

Untuk menilai suatu silogisme harus dibedakan dua pengertian yang sering dikacaukan, yaitu kesahihan(validitas;keabsahan) dan kebenaran. Bentuk logis silogisme ditentukan oleh:

1)      Bentuk logis dari pernyataan-pernyataan katagorial dalam silogisme.

2)      Cara penyusunan term dalam masing-masing pernyataan dalam silogisme.

Dengan menggunakan simbol-simbol, figur silogisme dinyatakan sebagai S−P, O−S, O−P

Dengan menggunakan lambang diatas, maka figur yang diperoleh dari silogisme terdiri dari empat macam, yaitu:


Figur 1

S−P

O−S

O−P


Figur 2

P−S

O−S

O−P


Figur 3

S−P

S−O

O−P


Figur 4

P−S

S−O

O−P


d.      Menguji Validasi

untuk pengujian silogisme dapat digunakan diagran venn. Karena silogisme mengandung tiga term yang berbeda, maka untuk menguji validasi dapat digunakan tiga lingkaran. Jumlah area yang dihasilkan berjumlah 8 buah, termasuk area diluar lingkaran

secara singkat dapat dikemukakan sekali lagi, bahwa untuk membuktikan kesahihan dan tidak kesahihan suatu silogisme dengan diagram venn, mula-mula tempatkan silogisme dalam bentuk standar. Kemudian buat tiga lingkaran yang tumpang tindih dan menghasilkan 8 daerah. Tipa area sesuai dengan term-term silogisme. Setelah itu nyatakan premis universal dengan memberi bayangan, kemudian tentukan premis partikular dengan menggunakan tanda silang. Jika diagram menyatakan dengan tepat silogisme, maka silogisme tersebut valid, bila silogisme terakhir tidak menyatakan kesimpulan, maka silogisme invalid.

e.       Kaidah-Kaidah Silogisme Kategorial

Dengan menerima pandangan hipotesis maka silogisme berikut merupakan bentuk yang sahih:

Figur 1

Figur 2

Figur 3

Figur 4

AAA

AEE

AII

AEE

EAE

EAE

EIO

EIO

AII

AOO

IAI

IAI

EIO

EIO

OAO



Dengan mempelajari bentuk-bentuk silogisme yang valid diatas, kita dapat merumuskan sebuah kaidah yang akan menjamin kebenaran silogisme itu, kalau kaidah itu dituruti secara seksama.

3.      Silogisme Hipotesis

Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotesis. Silogisme hipotesis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi tidak ada. Premis mayonya bersifat hipotesis.

Walupun premis mayor bersifat hipotesis, premis minor dan konklusinya bersifat kategorial.

4.      Silogisme Alternatif

Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif. Dosebut demikian karena premis mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan. Sebaliknya proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolok suatu alternatif. Konklusinya tergantung dari premis minornya.

5.      Entimen

Silogisme sebai cara untuk menyatakan pikiran yang bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari-hari silogisme ini muncul hanya dalam dua proposisi, salah satunya dihilangkan.

Persoalan dalam sebuah argumentasi adalah bagaimana menganalisa dan melakukan kebenaran atau menunjukan kekeliruan penalaran orang lain.

6.      Rantai Deduksi

Seringkali penalaran deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimen. Orang tidak berhenti dari sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula merangkai beberapa silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.

Dalam kenyataan penalaran deduktif dan induktif memberi pengaruh timbal balik, sebab penalaran bergerak melalui proses yang kompleks, dengan menilai evidensi yang ditimbulkan oleh situasi tertentu.

Yang penting dalam mata rantai induksi-deduksi ini, harus mengetahui norma dasar, sehingga bila argumen dapat bertentangan dapa menguji argumen untuk menentukan kesalahan dan kemudian dapat memperbaikinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar